Solid Berjangka | Dolar AS Gencet Rupiah Lagi ke Rp 14.033

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.

Solid Berjangka Makassar – Nilai tukarDolar Amerika Serikat (AS) pagi ini berada di level Rp 14.010. Mata uang Paman Sam berada di rentang Rp 14.010-14.030.

Demikian dikutip dari data Reuters, Selasa (26/1/2021).

Sedangkan dikutip dari data RTI, dolar AS berada di level Rp 14.037. Mata uang Paman Sam menggencet rupiah dari kemarin di level Rp 14.033.

The Greenback berada di level tertingginya di Rp 14.069 dan terendahnya di Rp 14.019.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka melemah 5 poin (0,09%) ke level 6.252. Indeks LQ45 juga melemah 1,1 poin (0,11%) ke level 986.

Misteri Mengerikan yang Menghantui Charles Darwin

Seorang ilmuwan telah mengungkap fakta baru mengenai asal mula “misteri mengerikan” yang menghantui Charles Darwin.

Pakar biologi itu dibuat pusing oleh teka-teki mengenai cara tanaman bunga pertama di dunia berevolusi.

Darwin khawatir misteri yang tidak bisa dipecahkan ini merontokkan teorinya soal evolusi, kata Profesor Richard Buggs.

Dokumen-dokumen bersejarah yang terlupakan memperlihatkan bahwa seorang ilmuwan pesaing Darwin menegaskan ada campur tangan ilahi dalam kemunculan tanaman berbunga.

Hal ini terus dipikirkan Darwin dalam bulan-bulan terakhir menjelang kematiannya, menurut Buggs, guru besar ilmu biologi evolusi dari Queen Mary, University of London.

“Misteri ini kelihatannya mengerikan bagi Darwin karena argumen penanggung jawab botani British Museum yang banyak dipublikasikan mengenai campur tangan ilahi dalam sejarah kehidupan,” kata Buggs.

Apa yang dimaksud dengan misteri mengerikan?

Darwin memunculkan istilah “misteri mengerikan” pada 1879.

Darwin menulis surat kepada sahabat terdekatnya, ahli botani dan penjelajah, Dr Joseph Hooker.

Dalam surat tersebut, Darwin menyebut: “Pertumbuhan cepat semua tanaman tinggi yang bisa kita tinjau dalam masa geologi belakangan ini adalah misteri mengerikan.”

Misteri terletak pada pertumbuhan tanaman berbunga, atau angiosperma, keluarga tanaman yang memproduksi bunga dan merilis bijinya pada buah.

Keluarga tanaman ini merupakan mayoritas semua tumbuhan, dari oak, bunga liar, hingga bunga lili.

Tanaman bunga muncul di Bumi relatif baru dalam masa geologi, tapi kemudian berkembang secara cepat dalam aneka warna, wujud, dan bentuk.

“Dalam catatan fosil mereka muncul sangat mendadak pada zaman Cretaceous, sekira 100 juta tahun lalu. Sebelumnya tiada keluarga tanaman yang seperti angiosperma, namun mereka tiba-tiba muncul secara beragam,” kata Profesor Buggs.

Pertanyaan yang muncul sehubungan dengan kemunculan tanaman bunga secara mendadak adalah inti dari misteri mengerikan Darwin, jelasnya.

“Mengapa angiosperma tidak berevolusi secara bertahap? Mengapa kita tidak melihat wujud penghubung antara gimnospermaseperti pinusdan tanaman berbunga? Lantas mengapa, ketika mereka muncul, sudah sangat beragam?”

Mengapa Darwin kebingungan?

Darwin sangat terganggu oleh cara tanaman bunga menguasai dunia dalam sekejap mata, sementara kelompok besar lain, seperti mamalia, berkembang secara bertahap.

Kemunculan tanaman bunga yang menunjukkan evolusi bisa terjadi secara cepat dan mendadak, bertentangan secara langsung pada elemen penting dalam seleksi alam, yaitunatura non facit saltumalam tidak membuat loncatan.

Darwin memunculkan gagasan bahwa tanaman berbunga mungkin telah berevolusi di sebuah pulau atau benua yang belum ditemukan.

Pada Agustus 1881, beberapa bulan sebelum kematiannya, dia menyurati Hooker, “Tiada yang lebih luar biasa dalam sejarah Kerajaan Sayur, dalam pandangan saya, dari perkembangan tanaman tinggi yang sangat mendadak.”

“Saya kadang berspekulasi apakah tidak ada suatu tempat dalam waktu yang lama sebuah benua yang sangat terisolasi mungkin dekat Kutub Selatan.”

Adakah pemikiran baru?

Di perpustakaan Royal Botanic Gardens, Kew, Profesor Buggs menemukan bahan kuliah umum yang dicetak ulang pada 1876. Bahan kuliah itu disampaikan ahli botani Skotlandia, William Carruthers, yang memberikan konteks baru mengenai pemikiran Darwin.

William Carruthers kelak menjadi penanggung jawab botani di British Museum, dan “seorang sosok terkemuka saat itu di bidang paleobotani”.

Melalui penyampaian kepada Asosiasi Ahli Geologi di perpustakaan University College London, Carruthers menyoroti masalah yang dihadapi Darwin mengenai catatan fosil terkait kemunculan mendadak tanaman berbunga.

Komentar Carruthers yang dimuat harian The Times dan jurnal ilmiah, memantik perdebatan publik.

“Carruthers memakai misteri mengerikan untuk melancarkan serangan terhadap evolusi itu sendiri,” jelas Buggs. “Dia berpikir Tuhan menciptakan angiosperma pada era Cretaceous; mereka tidak berevolusi.”

“Bagi Darwin dan teman-temannya, pendapat tersebut sangat tidak disukai, karena [Carruthers] berupaya membawa penjelasan supernatural pada catatan fosil.”

Namun Darwin punya sebuah masalah. Poin-poin yang disampaikan Carruthers mengenai catatan fosil sejatinya sangat sulit dijelaskan dalam konteks evolusi, kata Buggs.

Ia menilai itulah yang mendorong Darwin memunculkan istilah “misteri mengerikan” dan menjelaskan argumennya dalam makalah ilmiah yang diterbitkan American Journal Of Botany.

Bagi Darwin, tambah Buggs, misteri itu setara dengan Teorema Terakhir yang dihadapi ahli matematika abad ke-17 Pierre de Fermat.

“Dokumen ini memberikan wawasan mengenai apa yang ada dalam pikiran Darwin selama beberapa tahun terakhir hidupnya. Dokumen itu memberikan romansa tambahan. Hampir seperti Teorema Terakhir yang dihadapi Fermat, misteri terakhir Darwin menjadi masalah yang menghantui pikirannya selama bulan-bulan terakhir.”

Apakah misteri ini sudah dipecahkan?

Singkatnya, belum.

“Selang 140 tahun kemudian, misteri ini masih belum dipecahkan,” ujar Buggs.

“Tentu kita membuat banyak kemajuan dalam pemahaman mengenai evolusi dan dalam pengetahuan mengenai catatan fosil, namun misteri ini masih ada,” katanya.