SOLID BERJANGKA

SOLID BERJANGKA

SOLID BERJANGKA MAKASSAR – Ita Diana merelakan satu ginjalnya demi melunasi utang ratusan juta rupiah. Namun nasibnya justru terkatung-katung karena uang dari ginjal itu tak seperti yang diharapkan.

Raut wajah Ita Diana pucat. Wajah perempuan 41 tahun itu juga masih terlihat menyimpan kesedihan mendalam. Kesehatan Ita pun selalu drop. Fisiknya tak boleh terlalu capek. Maklum, sudah hampir 10 bulan ini Ita harus hidup dengan satu ginjal karena ginjal kirinya dia jual.

Ita bersama suaminya, Kasyadi, 45 tahun, dan ketiga anaknya terpaksa menumpang hidup di rumah orang tuanya, Supai, 73, tahun, dan Juma’iyah, 59 tahun, setelah rumah mereka di Jalan Wukir, Gang 5, dijual pada pertengahan 2016. Praktis, rumah sangat sederhana dan berukuran kecil itu sesak diisi tujuh orang.

Entah kenapa pasangan suami-istri itu menjual rumahnya. Ita hanya mengaku ia dan Kasyadi, yang sehari-harinya hanya bekerja serabutan, punya utang Rp 350 juta kepada sebuah koperasi di desanya. Ita enggan berterus terang utang sebesar itu untuk apa. Kasyadi sendiri menolak berbicara dan memilih berdiam di kamar. Ia sebelumnya bekerja di Kalimantan.

Selain menjual rumah, Ita nekat menjual ginjal tanpa izin Kasyadi dan keluarga besarnya. Niat menjual organ tubuh itu berawal ketika ia menemani salah satu sahabatnya yang sedang dirawat di Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA), Kota Malang, pada Februari 2017. Selama sepuluh hari di rumah sakit, ia sering berbincang-bincang dengan perawat dan asisten dokter.

Perempuan yang memang sangat polos ini sempat menceritakan kesulitan hidupnya akibat terlilit utang. Mungkin karena kasihan dan iba, kata Ita, salah satu perawat RSSA menyarankan agar dia menemui dr Atma Gunawan dan dr Rifa’i. Keduanya adalah ketua dan anggota Tim Transplantasi Ginjal RSSA.

Karena didorong keinginan agar utangnya segera lunas, Ita memberanikan diri menemui kedua dokter ginjal itu dengan diantar perawat yang merekomendasikan. Pertemuan dengan kedua dokter itu berlangsung hingga beberapa kali. “Sudah, Ibu jangan khawatir. Kalau ginjal mau diberikan, pasti penerima akan melunasi beban utang Ibu,” ujar Ita menirukan pembicaraan dengan tim dokter itu.

”Saya tagih beberapa kali, tapi Pak Erwin malah mengusir dan menghina saya.”

Tak berapa lama, Ita dipertemukan dengan Erwin Susilo, seorang pengusaha showroom mobil ‘Hindra Jaya’ di Kota Malang, yang menderita gagal ginjal. Sejak Juli 2016, Erwin melakukan cuci darah dua kali seminggu di RSSA dan tengah antre untuk menjalani pencangkokan ginjal.

Ita juga bertemu dengan istri Erwin bernama Ninik. Saat itu, baik Erwin maupun Ninik berjanji akan melunasi utang yang selama ini menjadi beban Ita. Setelah dites, ternyata ginjal Ita cocok didonorkan kepada Erwin. Walau tak ada perjanjian di atas kertas, Ita percaya karena yang terlibat adalah dokter-dokter RSSA.

”Sudah, tak usah dipikir dulu. Yang penting Bapak (Erwin) sehat dulu. Keluarga kami tak akan menutup mata, pasti membantu kebutuhan Ibu,” cerita Ita menirukan perkataan Ninik.

Setelah ada kesepakatan, Ita diinapkan di Jonas Homestay, Jalan Dr Soetomo, yang lokasinya tak jauh dari RSSA, pada 17-24 Februari 2017. Selama menginap, Ita diberi uang Rp 75 ribu per hari oleh Erwin dan Ninik. Setelah itu, Ita diinapkan di ruang paviliun kelas 1 RSSA untuk menjalani operasi pengangkatan ginjal.

Setelah menjalani operasi, saat itulah Ninik memberikan uang tali kasih sebesar Rp 74 juta secara bertahap. Pertama diberikan Rp 50 juta, kedua Rp 20 juta, dan ketiga Rp 4 juta. Ita pun mengira akan diberi uang lagi untuk menutupi utangnya. Tapi, setelah lama ditunggu, mereka tak pernah menghubungi dan memberikan uang lagi.

Ita pun terpaksa menyambangi rumah Erwin di Jalan Kaliurang 6, Malang, untuk menanyakan sisa uang yang akan diberikan guna melunasi utang. Alangkah kagetnya dia lantaran bukan uang yang diterima, melainkan hinaan dan pengusiran. “Saya tagih beberapa kali, tapi Pak Erwin malah mengusir dan menghina saya,” ujar Ita lirih. Matanya berkaca-kaca.

Ita menemui dr Atma dengan harapan bisa menjembatani dirinya dengan keluarga Erwin. Alih-alih mendapatkan uang, justru Ita tambah tertekan. Ia ditakut-takuti bisa masuk penjara apabila terus menuntut sisa pembayaran operasi donor ginjalnya. “Kalau saya ramai atau nagih, kata dokter, malah saya bisa dipenjara. Saya makin takut dan bingung,” ujar Ita.

Saat itu dr Atma memintanya membuat rekening bank. Ia mendapat uang Rp 500 ribu per bulan untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Namun, sebulan belakangan ini, transferan itu terhenti. Disarankan temannya agar mengadu, Ita tak mau. Teman-temannya lantas mengunggah kasus Ita tersebut ke media sosial.

Unggahan itu membuat pengacara bernama Yossiro Ardhana Rahman tergugah untuk membantu. Yossiro dan beberapa rekan pengacara mencoba mempertemukan Ita dengan Erwin dan RSSA. Erwin bersama Ninik akhirnya menemui Ita di Balai Latihan Kerja Guna Karya Insan Mandiri di Jalan Metro Nomor 7, Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang, pada 21 Desember 2017.

Pertemuan dilakukan di tempat itu karena Ita tengah menjalani pelatihan sebagai tenaga kerja Indonesia. Sayang, pertemuan tertutup ini tak membuahkan jalan keluar yang menggembirakan. Akhirnya Yossiro dan Ita melaporkan dugaan tindak kejahatan pencurian dan penipuan dengan janji uang yang tak terbayarkan ke Polres Kota Malang.

Yossiro mengatakan pihaknya telah meminta klarifikasi kepada RSSA mengenai transplantasi ginjal yang dialami kliennya itu pada 28 Desember 2017. “Dan mereka sampai saat ini belum memberikannya,” ujar Yossiro

RSSA Malang mengakui telah melakukan transplantasi ginjal sebanyak 16 kali. Ita merupakan donor ke-17. Pasien memang harus antre untuk mendapatkan ginjal. Tapi rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu membantah bila disebut telah melakukan praktik jual-beli ginjal.

RSSA menegaskan operasi transplantasi ginjal dari Ita ke Erwin telah sesuai dengan standard operating procedure (SOP) rumah sakit dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Transplantasi itu juga tidak ada hubungannya secara pribadi dengan dr Atma sebagai ketua tim transplantasi ginjal.

“Semua kuasa penuh dan proses yang dilakukan sesuai dengan SOP yang diatur oleh RSSA,” kata Ketua Komite Medik RSSA Malang Istan Irmansyah di RSSA Malang, Jumat, 22 Desember 2017.

Sementara itu, dr Atma membantah anggapan telah sengaja mencari calon donor dan terlibat transaksi jual-beli ginjal. Timnya berani melakukan operasi setelah kedua belah pihak (Ita dan Erwin) melakukan kesepakatan. Tanpa itu, tim bisa langsung melakukan pembatalan. “Jadi semua sudah mengacu pada SOP dan peraturan Menkes,” katanya.

Permenkes No 38 Tahun 2016 menyebutkan setiap transplantasi organ tubuh wajib disertai perjanjian hitam di atas putih yang dibuat di hadapan notaris. Isinya menjelaskan proses itu dilakukan secara sukarela. Apabila syarat itu tak terpenuhi, kuat dugaan bahwa proses transplantasi dilakukan secara ilegal atau diduga terjadi tindak pidana penjualan organ tubuh manusia.

Kuasa hukum Erwin, Maskur, menjelaskan kliennya sudah dimintai keterangan oleh penyidik Polres Kota Malang dan tim dari Polda Jawa Tengah terkait masalah ini pada 2 Januari 2018. Dalam keterangannya, Erwin menyebut memang menjadi pasien gagal ginjal sejak dua tahun lalu dan sempat dirawat di Rumah Sakit Pantai Panti Waluyo, Malang.

Karena pengobatan dan operasi tak dijamin Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, akhirnya ia dipindahkan ke Rumah Sakit Persada Hospital di Jalan Panji Suroso. Di rumah sakit swasta itu, Erwin menjalani cuci darah dua kali seminggu sejak April 2016. Baru pada Juli 2016, Erwin pindah ke RSSA.

Saat di RSSA, kata Maskur, kliennya menerima tawaran donor ginjal dari Ita. Awalnya tawaran ini disampaikan atas dasar kemanusiaan dan tolong-menolong. Kalaupun ada pemberian uang, yang menurut versi Maskur Rp 90 juta, itu merupakan bentuk tali kasih dari Erwin kepada donor.

Bahkan, dari keterangan dr Rifa’i, yang melakukan operasi transplantasi ginjal, semua biaya pemeriksaan, seperti cek golongan, sel darah, dan jantung, ditanggung Erwin, sebesar Rp 30 juta. Erwin juga memberikan uang kompensasi Rp 15 juta per bulan selama tiga bulan dan biaya asuransi Rp 5 juta. Totalnya mencapai Rp 50 juta.

Semua ini tertuang dalam surat perjanjian persetujuan para pihak yang hadir, seperti Erwin-Ninik, Ita, saudara Ita (tak disebutkan namanya), dan dr Atma. Tapi lagi-lagi, Maskur mengaku tak bisa memberikan fotokopi surat perjanjian itu.

“Kami tidak diizinkan karena itu merupakan dokumen negara, mengingat rumah sakit punya pemerintah, bukan swasta,” kata Maskur.Maskur menambahkan, bila kasus ini akan dilanjutkan ke jalur hukum, pihaknya siap menghadapinya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Malang AKP Ambuka Yudha menuturkan telah memeriksa sejumlah orang terkait kasus itu. Namun, ketika ditanya apakah telah memeriksa Erwin, ia tak memberikan jawaban tegas. “Kami sudah memeriksa dua orang, korban dan saudaranya,” kata Ambuka.

Yossiro berharap penanganan kasus ini berjalan sesuai dengan fakta hukum yang ada. Sebab, kasus yang menimpa Ita sangat merugikan. Selain telah kehilangan organ tubuhnya, beban utang Ita pun masih besar. “Kami ingin segera RSSA memberikan penjelasan, termasuk soal surat penandatanganan atau perjanjian. Mereka mengatakan tengah melakukan audit internal dan menunggu proses ini selesai,” tutur Yossiro.

Sejak kasus ini muncul ke publik, Ita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Padahal ia tercatat sebagai TKI yang akan berangkat ke Hong Kong pada awal 2018. “Saya sudah berniat menyelesaikan masalah ini dulu. Semua menginginkan saya tidak berangkat,” katanya.

Kini pihak koperasi yang menagih utangnya jarang datang. Tapi masalah lain muncul, yakni dari perusahaan penyalur TKI, yang meminta uang ganti rugi karena dia tak jadi berangkat ke Hong Kong.

Yossiro meminta Ita tenang dan beristirahat di rumah sampai kasusnya selesai. Keluarga, khususnya suaminya, kini juga sudah mendukungnya secara penuh untuk menempuh jalur hukum. “Awalnya saya takut. Suami dan anak-anak pasti marah. Alhamdulillah, setelah masalah ini ramai diberitakan, suami sama anak-anak mendukung asalkan semua itu benar,” ujarnya – SOLID BERJANGKA