SOLID GOLD

SOLID GOLD

SOLID GOLD MAKASSAR – Wajah Eka Pralaya, Muhammad Rasyid Ridho, dan Apip terlihat segar. Tubuh mereka sehat dan berisi. Mereka juga tampil cukup rapi. Ketiganya sebentar lagi meninggalkan Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, Lido, Bogor, Jawa Barat. Selama enam bulan penuh mereka menjadi residen, pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi di BNN, dan kini hampir sembuh.

“Dari bentuk fisik, dulu kurus, rambut berantakan. Sekarang saya lebih gemuk dan sudah rapi,” kata Eka.

Masing-masing juga punya rencana ke depan setelah terbebas dari pengaruh narkoba, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Eka misalnya. Pemuda 25 tahun itu dalam waktu dekat ingin berkonsentrasi menyelesaikan kuliah di Universitas Muhammadiyah Jambi.

Sedangkan jangka panjangnya, ia ingin meneruskan bisnis yang sudah lama digeluti keluarganya di Jambi. “Saya sampai saat ini masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Jambi. Saya ambil cuti untuk rehab,” ujar Eka.

Rasyid pun ingin melanjutkan kuliah di Universitas Medan Area, Sumatera Utara. Sebelumnya, ia dropout dari Universitas Islam Negeri Medan gara-gara narkoba. Sembari mengejar gelar sarjananya, Rasyid ingin nyambi menjadi konselor, yaitu pendamping korban penyalahgunaan narkoba yang ingin direhabilitasi. “Agar ada modal untuk tidak jatuh lagi, tidak terjerumus lagi. Kalau nggak ada kerjaan, takut pakai lagi,” kata pemuda 22 tahun ini.

Lain lagi dengan Apip. Saat ini ia sudah berkeluarga dan mempunyai dua anak di Jambi. Keluar dari Balai Besar Rehabilitasi BNN, ia ingin kembali ke keluarga dan memulai kehidupan yang baru. Masih terasa benar penyesalan dalam dirinya telah menyia-nyiakan keluarga yang menyayanginya karena terlena oleh narkoba. Padahal, selama direhab, keluargalah yang setia menjenguknya.

“Banyak sekali saya perubahannya. Saya sering yasinan dan merasa bersalah pada keluarga. Teman saya tidak ada yang bantu sekarang. Dulu saya happy-happy sama mereka. Hanya keluarga yang jenguk ke sini. Dulu saya menyia-nyiakan. Sekarang saya sudah hidup normal di sini,” tutur Apip.

Apip menceritakan bagaimana narkoba menggerogoti kehidupannya. Ia awalnya sekadar mencoba-coba narkoba jenis sabu dari seorang bandar di sebuah kampung yang jaraknya 2 jam perjalanan dari Jambi. Namun lama-kelamaan ia merasa mengalami ketergantungan. Dalam sebulan, ia bahkan menghabiskan uang Rp 10 juta untuk membeli sabu.

Apip, yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut karet di Jambi, mengaku hartanya terkuras habis untuk membeli narkoba. Keuntungan dari narik truk, yang harusnya dipakai untuk membayar angsuran truk, justru ditukar dengan sabu, hingga akhirnya truk milik ayahnya itu ditarik perusahaan leasing.

Pernah juga dia mendapat modal dari bapaknya hasil menjual tanah. Namun, lagi-lagi, modal itu habis untuk sabu dan berjudi bersama kakaknya. Apip mengaku mengkonsumsi sabu karena barang haram itu ibarat doping dalam bekerja. “Kita berdua nimbang. Supaya kuat, saya pakai sama kakak saya. Kalau nggak pakai (sabu), saya malas kerja. Modal saya pun terkuras. (Saya beli) 1 gram sabu Rp 1,7 juta,” katanya.

Sang istri tak berani melarang. Selain mengkonsumsi sabu, Apip rajin mengisap ganja. Karena tak lagi tahan melihat kelakuan Apip, bapaknya pun membawanya ke BNN Muara Balian, lalu ke Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido. “Saya hampir selesai, sudah enam bulan.”

Rasyid menceritakan, sebelum dirujuk ke Balai Besar Rehabilitasi, ia sempat menjalani rawat jalan di BNN Deli Serdang. Selama lima bulan mengikuti rawat jalan, ia dinyatakan bersih dari narkoba. Namun, tak lama berselang, Rasyid kambuh lagi karena pengaruh kekasihnya, yang merupakan pengguna narkoba. Keduanya pecandu berat sabu dan Inex.

Akan halnya Apip, Rasyid bercerita, barang-barang di rumahnya, seperti sepeda motor dan televisi, ludes digadaikan hanya untuk memenuhi hasrat mengkonsumsi narkoba. Hingga akhirnya ia bertekad sembuh dan bilang kepada orang tuanya ingin mengikuti rehabilitasi di Balai Besar Rehabilitasi BNN, Lido.

Pertama masuk Balai Besar Rehabilitasi, ia menjalani detoksifikasi, yaitu pemutusan zat adiktif dari narkoba di dalam tubuhnya. Ia hanya makan, tidur, dan dijemur selama beberapa jam. Setelah dua minggu, ia masuk entry unit untuk mengikuti program primary selama sebulan. Di situ, segala sikap dan perilaku ugal-ugalannya direduksi.

“Lalu, kedua, sesi agama. Di sini ditekankan lebih pada agama, dan kekuatan utama itu Tuhan. Lalu responsibility, tanggung jawab. Yang paling tinggi itu honesty, bertindak sebagaimana mestinya,” ujar Rasyid.

Untuk mengatasi kejenuhan, Rasyid mengikuti berbagai pelatihan vokasional. Kegiatan itu meliputi wirausaha, seperti sablon kaus dan pembuatan kopi. Ada pula nonton bersama di Mal Botani Square, Bogor, didampingi petugas.

Alhasil, hampir enam bulan menjalani rehabilitasi, ia kini merasakan dampak positif. “Perubahan yang saya rasakan itu adalah bertindak sebagaimana mestinya. Banyak hal beda yang saya rasakan sekarang. Bisa lebih pede. Gaya hidup sehat kalau di sini,” katanya.

Eka menambahkan, selama berada di Balai Besar Rehabilitasi BNN, hidupnya menjadi lebih berdisiplin dan bertanggung jawab. Ia kini juga lebih bisa bersyukur atas kehidupan yang dijalaninya. Selama bertahun-tahun dalam cengkeraman narkoba, ia tidak peduli terhadap keluarganya. Bahkan ia merasa tidak punya keluarga lagi.

“Mungkin lebih bersyukur lagi saya bisa belajar bertanggung jawab. Karena program di sini harus disiplin waktu, dari kita bangun, salat, sampai waktu makan pun diatur. Grup juga semua ada delegasinya,” katanya.

Eka memang berasal dari keluarga broken home. Sejak bersekolah di taman kanak-kanak, Eka diasuh oleh neneknya, yang tinggal di Kota Jambi. Meski merasa kurang mendapat perhatian orang tua, Eka mengaku semua kebutuhan hidupnya terpenuhi, hal yang belum tentu didapatkan orang lain.

Eka bilang kedua orang tuanya juga pecandu narkoba, sehingga membuatnya gampang terjerumus. Awal Eka mengenal narkoba adalah mengkonsumsi ganja, kemudian sabu dan Inex sejak 2007. Ia tak lulus SMA di Jambi dan harus mengambil ujian Paket C. Saat itu ia sempat berhenti memakai narkoba. Namun, begitu masuk kuliah, hidupnya makin kehilangan arah. Kembali ia memakai barang haram itu.

“Saya dapat uang dari orang tua dan saya ambil uang dari Nenek. Saya juga terpengaruh judi, jadi kalut dibuatnya semuanya. Saya sih nggak sampai melakukan tindak kriminal. Cuma di lingkup internal keluarga. Semua barang saya jual, mobil saya jual,” katanya.

Eka menyebutkan dampak positif lain selama direhabilitasi. Ia yang sebelumnya sangat introver kini menjadi lebih terbuka terhadap orang lain. Dulu masalah ia pendam seorang diri. Tapi sekarang ia mau berbagi dengan sesama residen untuk tahu mana aspek yang salah dan harus diperbaiki dalam sikapnya.

Tapi yang lebih penting adalah Eka menjadi lebih tahu dampak narkoba. Meski tidak pernah sampai sakau, ia merasa selalu gelisah dan berpikir lambat sejak menggunakan narkoba. Dulu efek itu ia anggap enteng saja dan masih bisa dikontrol. Namun pada akhirnya semua masalah menumpuk dan ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Akhirnya Eka mengikuti jejak paman dan sepupunya mengikuti program rehabilitasi di BNN. “Sampai akhirnya saya benar-benar nggak tahu harus ngapain. Saya susah banget ngomong sama orang. Di sinilah kita disuruh belajar hidup normal lagi,” ujar Eka – SOLID GOLD