Foto: Agung Pambudhy

SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV dan sepanjang 2018. Target sepanjang 2018 adalah 5,2%. Namun angka tersebut diprediksi sulit dicapai karena beberapa faktor.

Peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah melemahnya net ekspor akibat efek perang dagang, penurunan harga komoditas perkebunan dan tingginya impor BBM.

“Kinerja investasi sulit untuk diandalkan karena data realisasi investasi hanya tumbuh 4,1% year on year sepanjang 2018,” kata Bhima.

Menurut Bhima pertumbuhan ekonomi 2018 full year diprediksi 5,15%. Ini masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh di kisaran 5%.

Ekonom PermataBank Josua Pardede mengungkapkan landainya prediksi pertumbuhan ekonomi karena kinerja investasi yang juga melandai dan penurunan impor barang modal.

Kemudian suntuk belanja pemerintah diperkirakan tumbuh mengingat siklus belanja akhir tahun yang meningkat.

Menurut Josua, net ekspor masih mengalami kontraksi terindikasi dari pelebaran defisit neraca perdagangan. “Jadi secara keseluruhan full year tahun 2018 diperkirakan mencapai 5,15%,” imbuh Bhima.

Sejumlah ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2018 lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yakni di kisaran 5,12%-5,16%.

Josua menyebut ekonomi Indonesia kuartal IV 2018 mencapai 5,12% melandai dibanding kuartal sebelumnya 5,17%.

Faktor pendorong ekonomi ini masih bergantung pada konsumsi rumah tangga yang tumbuh di level 5%. “Konsumsi rumah tangga masih solid, inflasi terkendali dan peningkatan laju penjualan ritel, pendapatan riil masyarakat dan penjualan otomotif,” imbuh Josua

Sementara itu peneliti Bhima menjelaskan pertumbuhan ekonomi RI kuartal IV akan berada di level 5,13% – 5,16%. Hal ini masih didorong oleh konsumsi rumah tangga akhir tahun karena perayaan natal dan tahun baru.

“Komponen investasi melambat seiring gejolak perekonomian global dan jelang pilpres 2019 investor menahan diri masuk ke Indonesia,” jelas dia.

Sementara itu, kata Bhima, kinerja ekspor belum mampu membantu banyak lantaran anjlokmya harga komoditas di akhir tahun.

“Ekspor ke negara tujuan utama terkena perlambatan ekonomi global serta naiknya impor migas pada Oktober-Desember,” ujar Bhima – SOLID GOLD BERJANGKA