Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.

Solid Gold Berjangka Makassar – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup menguat 65 poin (1,05%) ke level 6.264. Indeks LQ45 juga menguat 11 poin (1,22%) ke level 939.

IHSG berada di level tertingginya 6.276 dan terendahnya di 6.225. Sebanyak 236 saham naik, 243 turun, dan 149 stagnan.

Saat jeda siang, IHSG menguat 57 poin (0,93%) ke level 6.257. Indeks LQ45 juga menguat 8 poin (0,95%) ke 936.

Sedangkan pada pembukaan perdagangan pagi tadi,IHSG menguat 33 poin (0,55%) ke level 6.233. Indeks LQ45 juga menguat 8 poin (0,93%) ke level 936.

Sementara bursa AS ditutup menguat. Dow Jones ditutup 31,832.74 (+0.10%), NASDAQ ditutup 13,073.83 (+3.69%), S&P 500 ditutup 3,875.44 (+1.42%).

Bursa saham AS ditutup menguat didorong yield dari 10 years treasury bond kembali menurun lebih dari 5 basis poin menjadi 1,54% dari 1,62%. Fokus investor saat ini berada pada data inflasi yang akan dirilis pada hari Rabu, untuk menentukan apakah ekspektasi dari inflasi telah meningkat sehingga mendorong yield bond meningkat.

Data ekonomi consumer price index bulan Februari 2021 akan dirilis dengan ekspektasi meningkat sebesar 0,4% di bulan Februari atau setara dengan peningkatan 1,7% dari tahun sebelumnya. Bursa Asia dibuka melemah, namun investor terlihat percaya diri seiring dengan segera disetujuinya dana stimulus AS sebesar US$ 1,9 triliun oleh Demokrat.

Berikut pergerakan bursa Asia sore ini:

* Indeks Nikkei naik 8 poin ke 29.036

* Indeks Hang Seng menguat 134 poin ke 28.907

* Indeks Shanghai berkurang 1,5 poin ke 3.357

* Indeks Strait Times turun 30 poin ke 3.077

10 Tahun Bencana Fukushima, Warga Jepang Mulai Khawatir dengan Nuklir

Sekitar satu dekade yang lalu, Jepang mengalami krisis nuklir usai gempa bumi dan tsunami membuat kebocoran radiasi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukusima. Krisis ini menjadi bencana terburuk pada pengolahan energi nuklir sejak Chernobyl di Ukraina.

Bencana itu menewaskan hampir 20.000 orang dan melumpuhkan pabrik Fukushima Dai-ichi. Lebih dari 160.000 penduduk melarikan diri saat radiasi dimuntahkan ke udara. Bahkan, pada saat itu, beberapa orang, termasuk Perdana Menteri Naoto Kan khawatir Tokyo perlu dievakuasi.

Kini, 10 tahun kemudian, Jepang mulai memperdebatkan peran energi nuklir dalam bauran energinya. Dilansir Reuters, Rabu (10/3/2021), masyarakat mulai khawatir dengan energi nuklir. Di sisi lain, pemerintah bertujuan mencapai netralitas karbon bersih pada tahun 2050 untuk melawan pemanasan global.