SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Meskipun nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan, serta transaksi berjalan defisit sebesar 3% terhadap PDB.

Perekonomian Indonesia dinilai tidak akan mengikuti jejak perekonomian Turki yang saat ini mengalami krisis. Krisis tersebut salah satunya disebabkan oleh pelemahan nilai tukar mata uangnya yakni lira terhadap dolar AS.

Pelemahan mata uang lira terhadap dolar AS ini sendiri terjadi karena kebijakan Presiden Donald Trump yang menggandakan tarif impor bajak dan aluminium dari Turki.

Melalui akun Twitternya, pada Jumat pekan lalu Trump mengumumkan bahwa tarif impor aluminium akan meningkat menjadi 20% dan tarif impor baja akan dinaikkan menjadi 50%.

Namun krisis ekonomi yang tengah dialami oleh Turki tidak akan diikuti oleh Indonesia. Begini penjelasan lengkapnya:

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku perekonomian Indonesia masih tetap terjaga. Dirinya pun mengaku akan terus waspada terkait dengan dinamika global yang memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.

“Namun overall ekonomi Indonesia tetap kita jaga. Ada perbedaan yang sangat nyata,” kata Sri Mulyani di gedung Dhanapala, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Perbedaan yang nyata antara Indonesia dengan Turki, kata Sri Mulyani dilihat dari defisit transaksi berjalan (CAD) yang sebesar 3% terhadap PDB, inflasi yang rendah 3,5% menandakan bahwa ekonomi nasional masih terkendali.

“Makanya yang muncul dari CAD, walaupun 3% tidak setinggi waktu taper tantrum tapi kita akan tetap hati-hati dan menjaga supaya dia tidak menjadi sumber kerawanan,” jelas dia.

“Inflasi kita 3,5% kalau di Turki kan sudah di atas 15%, growth kita 5% tapi tidak berhubungan dengan CAD yang tinggi seperti di Turki,” tambah dia.

Selain itu, dari sisi utang mata valuta asing (valas) baik dari swasta, perbankan, maupun Indonesia secara keseluruhan kondisinya masih terkontrol dengan baik. Selanjutnya, strategi pembiayaan pemerintah dalam menutup defisit APBN pun dilakukan dengan hati-hati.

Krisis ekonomi yang menimpa Turki diprediksi memberikan pengaruh pada realisasi investasi di Indonesia. Perlambatan pertumbuhan realisasi penanaman modal di tanah air pun sudah mulai terasa.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di sepanjang semester I-2018 mencapai Rp 361,6 triliun. Angka itu tumbuh 7,4% dibanding realisasi investasi di semester I-2017 sebesar Rp 336,7 triliun. Namun pertumbuhannya mengalami perlambatan, sebab di semester I-2017 tumbuh 12,9%.

Sementara realisasi penanaman modal di triwulan II-2018 (April-Juni) sebesar Rp 176,3 triliun. Angka itu turun dibanding realisasi investasi triwulan I-2018 (Januari-Maret) sebesar Rp 185,3 triliun.

“Dampak krisis Turki, transmisinya adalah melalui pasar uang dan pasar modal, yang mana terjadi penurunan likuiditas terutama dolar di seluruh dunia akibat penarikan kembali investor modal yang mereka investasikan di negara berkembang,” kata Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong di Gedung BKPM, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Menurut Thomas penarikan modal yang dilakukan investor asing dilakukan negara-negara dengan ekonomi berkembang termasuk Indonesia. Hal itu pun cukup memberikan pengaruh pada realisasi investasi.

Dia juga memperkirakan, krisis ekonomi di Turki akan memberikan pengaruh pada realisasi investasi PMA di triwulan III dan IV 2018. Meskipun dia masih yakin target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 765 triliun masih bisa dicapai meski berat.

Meski begitu Thomas yakin pemerintah akan mencari upaya untuk menepis imbas dari krisis ekonomi di Turki. Dia juga yakin imbas krisis ekonomi di Turki juga akan menjadi pembahasan dalam acara pertemuan IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018 mendatang.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memastikan Indonesia tidak terpengaruh dengan krisis ekonomi yang sedang menimpa Turki, akibat anjloknya mata uang lira terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Indonesia dikatakan JK memiliki nilai perdagangan yang relatif kecil dengan Turki.

“Kita kan perdagangan kita tidak banyak, US$ 1 miliar, US$ 2 miliar (Turki) dengan Indonesia,” kata JK di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (14/8/2018).

Turki memiliki hubungan perdagangan yang bernilai besar dengan negara-negara di sekitarnya khususnya negara-negara Eropa.

“Dia hubungannya dengan Eropa dengan negara-negara sekitarnya, perdagangan kita tidak besar,” ujarnya.

JK juga menyebut Indonesia dan Turki berbeda dari segi ekonomi, salah satunya tingkat inflasi Turki yang lebih tinggi dari RI.

“Saya kira kita beda dengan Turki, saya baru bicara dengan Ibu Ani (Menkeu Sri Mulyani), itu Turki dengan Indonesia beda, dia inflasinya 17% kita cuma 3,5%” tuturnya.

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengingatkan pemerintah untuk tidak lengah terhadap krisis nilai tukar di Turki karena dinilai dapat mempengaruhi perekonomian di Indonesia.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan meskipun hubungan ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Turki tidak begitu begitu besar tetapi krisis tersebut bisa merambat dan memberikan dampak sistemik. Apalagi krisis mata uang Turki telah memberikan efek kepada mata uang emerging market lainnya sehingga Indonesia pun bisa terdampak.

“Krisis di Turki tidak bisa disepelekan mengingat adanya contagion effect dan harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah karena kekhawatiran pasar sudah meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (13/8/2018).

Arif menyebut jika tidak diantisipasi lebih lanjut, krisis mata uang bisa menyebabkan terjadinya krisis sistem perbankan. Jika hal itu terjadi, krisis pada sistem keuangan akan berdampak pada sektor riil.

Lebih lanjut, Arif mengatakan salah satu respons pasar terhadap krisis mata uang di Turki, misalnya ditunjukkan melalui nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Selain itu, bisa juga direspons oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus memerah. Dari awal tahun hingga penutupan pasar pada Jumat (10/8), IHSG terus melemah sebesar 7,2%.

Kendati demikian, Arif menjelaskan, kondisi perekonomian Indonesia terbilang relatif lebih baik dibandingkan dengan Turki. Seperti diketahui, nilai tukar mata uang Turki, yaitu lira terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah terdepresiasi sebesar 70% sejak awal tahun atau secara year to date. Sementara kurs rupiah terhadap dolar AS hanya terdepresiasi 7,07 persen untuk periode yang sama.

Dalam pandangan Arif, ancaman krisis di sektor keuangan relatif akan terjadi apabila depresiasi mata uang telah mencapai setidaknya 25 persen dalam satu tahun dan laju perubahannya paling tidak 10 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya – SOLID GOLD BERJANGKA