SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini sedang menggelar rapat untuk menentukan kebijakan moneter. Beberapa investor berharap The Fed kembali menaikkan suku bunga seperti tahun kemarin.

Sepanjang tahun ini, The Fed memilih tetap mempertahankan suku bunga di 2,50%. Dalam beberapa kesempatan, The Fed memilih bersikap dovish–seperti burung merpati yang lembut–tidak seagresif (hawkish), mengingat data ekonomi AS yang belakangan tidak cantik.

Dan kenaikan tingkat suku bunga The Fed pada tahun lalu telah tidak menguntungkan kondisi ekonomi secara global. “Sebelumnya Amerika Serikat merasa nyaman atas pertumbuhan ekonomi mereka yang kuat. Namun sekarang mulai merasakan dampak global, mulai tidak menguntungkan bagi perekonomian mereka sendiri,” terang Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan, perlambatan kenaikan suku bunga The Fed belakangan ini sangat disambut. Bukan hanya oleh AS sendiri juga oleh dunia.

Seiring rapat The Fed pekan ini, kata Sri Mulyani, Indonesia akan terus mencermati keputusan suku bunga AS. Sejauh ini, Bank Indonesia dinilai bisa mengatasi dengan baik, dimana juga secara agresif menaikkan suku bunga hingga 6 kali sejak Mei-Desember 2018, dari semula 4,50% menjadi 6%.

Pemerintah Indonesia juga akan terus memantau perkembangan geopolitik dan perdagangan internasional, termasuk pergerakan harga komoditas yang semakin memperparah ketidakpastian ekonomi global – SOLID GOLD BERJANGKA