Liga Ekonomi Dunia 2019: Pertumbuhan Cina dan India Melambat

SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Ekonomi negara-negara berkembang, seperti China dan India, diperkirakan tumbuh lebih lambat. Dampaknya, negara-negara berkembang akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengejar Pertumbuhan Ekonomi negara-negara maju.

Hal itu terungkap dalam laporan konsultan Cebr melalui Tabel Liga Ekonomi Dunia 2019. Laporan itu menyebut ekonomi dunia bakal lebih suram ketimbang tahun sebelumnya.

“Untuk jangka menengah, kami kira sama optimisnya seperti tahun lalu, tetapi akan lebih bergelombang daripada yang kami kira,” tulis laporan tersebut.

Menurut laporan itu, China baru bisa menyalip ekonomi Amerika Serikat sebagai ekonomi nomor wahid di dunia pada 2032 mendatang atau dua tahun lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Hal itu dikarenakan masalah kebijakan moneter yang longgar dan nilai tukar yang rendah.

Sementara, Brasil baru akan melampaui ekonomi Italia pada 2020. Bukan 2018 seperti perkiraan awal. Begitu pula dengan India yang diproyeksi akan menyusul Inggris dan Prancis pada 2020 atau paling cepat 2019. Perkiraan awal, laju ekonomi India menyalip kedua negara maju tersebut terjadi pada tahun ini.

Sebagai permulaan, Inggris kemungkinan kehilangan posisinya sebagai ekonomi keenam terbesar bagi Prancis pada tahun depan. Keputusan Brexit atau Britania Raya keluar dari persekutuan Uni Eropa disebut-sebut menjadi biang keladinya.

Cebr juga memprediksi Irlandia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di wilayah Eropa pada tahun depan. Meskipun, risiko Brexit terus membayangi.

Dampak Perang Dagang

Laporan Cebr juga melansir efek dari perang dagang China dengan Amerka Serikat (AS), dua ekonomi terbesar di dunia, ikut menghambat pertumbuhan perdagangan dunia yang berakibat pada negara-negara berkembang lainnya.

Volume perdagangan dunia kemungkinan bertumbuh 2,99 persen pada tahun ini. Angka itu kurang dari dua pertiga dari realisasi volume dagang pada 2017 lalu.

Jajak pendapat ekonom yang digelar Reuters pada akhir Oktober lalu mengisyaratkan bahwa prospek pertumbuhan global pada tahun depan redup untuk pertama kalinya.

Indikatornya, kebijakan moneter ketat dari bank sentral dunia. “Dengan utang tinggi dan banyak masalah struktural, resesi global akan lebih sulit untuk diselesaikan daripada pendahulunya,” ungkap laporan Cebr.

Wakil Ketua Cebr Douglas McWilliams bilang, sebetulnya para pemangku kebijakan dan pemerintah masih memiliki cukup amunisi untuk melewati resesi berikutnya. “Tindakan fiskal tingkat tertentu harus diterapkan untuk menghindari dunia jatuh,” jelasnya.

McWilliams memperkirakan defisit fiskal rata-rata negara anggota OECD mencapai lima persen dari Produk Domestik Bruto pada 2020 nanti atau lebih tinggi dari perkiraan OECD sebesar 3,2 persen.