SOLID GOLD BERJANGKA

SOLID GOLD BERJANGKA

SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Kecamuk konflik Palestina versus Israel telah berlangsung lama dan rumit. Nama-nama mengemuka, tak terkecuali dari kaum perempuan.

Dalam situasi konflik, nilai kepahlawanan dan terorisme dipertanyakan pihak-pihak yang bertentangan maupun pihak yang tak terkait langsung. Satu pihak menganggapnya pahlawan, pihak yang lain menganggapnya teroris, pihak lain mencoba menempatkannya sesuai konteks perlawanan.

Namun yang jelas, perlawanan terhadap pendudukan Israel terhadap Palestina dilakukan oleh tak hanya satu kelompok, termasuk tak hanya oleh satu gender. Perempuan turut menjadi ikon perlawanan Palestina terhadap Israel.

Perempuan-perempuan ini tak berasal dari satu golongan saja, bukan pula berasal dari satu rentang umur yang sama. Fenomena perempuan melawan Israel kembali dihangatkan oleh berita akhir-akhir ini.

Perempuan Melawan Israel: Islam, Kristen sampai Komunis

Ahed TAmimi, perempuan yang satu ini bahkan berasal dari rentang umur yang khusus: anak-anak. Sejak usia awal belasan tahun, Ahed sudah melakukan aksi perlawanan, mencegah tentara Israel menangkap seorang anak laki-laki.

Dia terpotret sedang menggigit tangan tentara Israel yang sedang berusaha menangkap anak laki-laki itu.

Itu adalah peristiwa tahun 2015, saat itu Ahed masih 13 tahun. Kini Ahed menginjak umur 17 tahun dan ditahan oleh Israel bersama Ibunya yang bernama Nariman Tamimi (43) dan sepupunya bernama Nour Naji Tamimi (21).

Sebagaimana video viral yang merekam aksi tengah bulan Desember ini, Ahed dan sepupunya itu memukuli, menampar, dan menendang dua tentara Israel. Ahed adalah putri dari seorang ayah yang juga aktivis dan pernah ditahan Israel, namanya Bassem Al Tamimi.

Ada pula ‘ibu super’ di Palestina, namanya Manal Tamimi. Dia adalah ibu dari Mohamed Abu Aliya, anak 12 tahun yang dicokok tentara Israel saat bermain di halaman rumahnya.

Manal membesarkan anak sebagaimana pasangan orang tua Palestina lainnya. Manal pernah mengungkapkan bahwa menjadi seorang ibu di Palestina berarti juga menjadi seorang aktivis. Dua peran ini nyaris sulit dipisahkan. Para ibu harus senantiasa awas mengawasi dan melindungi anak-anak mereka dari kekejaman tentara Israel.

“Saya dapat katakan, 90 persen ibu di Palestina pasti pernah merawat anak mereka yang terluka atau berupaya membebaskan anak yang ditahan aparat Israel,” kata Manal kepada Al-Jazeera. Dia juga merawat anaknya yang nyaris buta karena tembakan gas air mata Israel serta satu lagi putranya yang kakinya tertembus pelor kaliber 22.

Dari warga Kristen, ada perempuan bernama Michellin Awwad yang fotonya juga ikonik. Dia terekam kamera saat beraksi di Beit Sahour, Tepi Barat, pada 1987, alias masa intifada pertama.

Perempuan Melawan Israel: Islam, Kristen sampai Komunis

Saat itu Awwad masih muda, dia terpotret sedang berpakaian hitam dengan syal kuning. Tangan kiri perempuan itu menenteng sepatu hak yang sewarna dengan syalnya. Sementara tangan kanannya tengah menggengam sebongkah batu untuk dilemparkan ke kerumunan tentara Israel.

“Hari itu ada acara khusus di gereja, jika tidak saya takkan memakai pakaian itu untuk ikut demonstrasi. Kami di gereja tidak mengira akan ada demonstrasi,” ungkap Michellin kepada BBC tentang poster tersebut. Sekarang dia sudah berusia 68 tahun.

Dalal Mughrabi barangkali nama yang kontroversial. Namanya diabadikan sebagai nama jalan karena dinilai sebagai syahidah. Namun menurut Israel, dia merupakan teroris.

Perempuan Melawan Israel: Islam, Kristen sampai Komunis

Dia adalah seorang perawat, putri dari pria pengungsi Palestina. Dalal memutuskan untuk terjun ke politik, bergabung dengan Fatah, salah satu faksi Islamis di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Perempuan militan kelahiran 1959 ini tewas dalam sebuah aksi serangannya pada 11 Maret 1978

Peristiwa tahun 1978 itu dikenal sebagai Coastal Road Massacre, menewaskan 38 orang termasuk 13 anak-anak, 70 orang lainnya luka-luka. Palestinian Media Watch, situs bikinan Israel, menyebutkan Dalal membajak bus berisi orang-orang di jalan dekat Tel Aviv itu. Dia tewas dalam aksi itu.

Mundur ke belakang lagi, ada Leila Khalid yang ilustrasi wajahnya sudah kelewat populer sebagai ikon perlawanan dari dekade lampau.

Leila adalah perempuan militan dari kelompok berhaluan komunis, yakni Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Dia disebut-sebut sebagai perempuan pembajak pesawat pertama di dunia.

Aksi pembajakan pesawatnya bahkan bukan hanya dilakukannya sekali, namun dua kali, yakni 1969 dan 1970. Aksi pembajakan pertamanya dilakukan terhadap pesawat TWA Flight 840 penerbangan Roma ke Tel Aviv. Tak ada yang terluka dalam aksi pembajakan tahun 1969 ini. Hanya saja, moncong pesawat ini diledakkan oleh Leila di darat. Dalam buku Sarah Irving, “Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina”, Leila menyatakan dia memang menghindari timbulnya korban jiwa.

Fotonya saat memegang senapan AK-47 dan mengenakan keffiyeh menjadi ikonik, dan memaksanya melakukan enam kali operasi plastik supaya tak ketahuan saat aksi-aksi berikutnya.

Perempuan Melawan Israel: Islam, Kristen sampai Komunis

Aksi pembajakan kedua, yakni terhadap pesawat maskapai Israel El Al dari Amsterdam ke New York, berakhir dengan kegagalan. Kamerad sosialisnya dari Sandinista Nikaragua, Patrick Arguello, tewas dalam upaya pembajakan ini setelah ditembak empat kali oleh pihak Israel.

Granat yang dibawa oleh Leila dan dilempar Patrick gagal meledak. Kematian Patrick ini disebut-sebut memicu aksi balasan di Bandara Lod, Israel, menewaskan 26 orang pada 1972. Aksi terorisme di Bandara Lod ini melibatkan anggota militan komunis Jepang, Japanese Red Army pimpinan perempuan bernama Fusako Shigenobu.

Bentuk perlawanan terhadap Israel diwujudkan dalam berbagai bentuk aksi, lengkap dengan segala kontroversinya. Namun yang pasti, semua orang setuju bila perdamaian tercipta di bumi, bebas dari konflik, teror, maupun pertumpahan darah – SOLID GOLD BERJANGKA