Foto: Eduardo Simorangkir

SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem transportasi umum paling efisien di dunia, khususnya kereta. Panjang jalur kereta di Jepang mencapai 27.337 kilometer (km), berbanding terbalik dengan panjang jalur kereta yang ada di Indonesia yang sekitar 5.000-an km saja.

Berdasarkan laporan data tahunan Japanese Urban Transport 2010, dari ribuan km jalur kereta yang beroperasi, setidaknya ada 23 miliar penumpang yang diangkut setiap tahunnya (2008). Hal tersebut membuktikan bahwa transportasi umum atau kereta menjadi pilihan yang paling diandalkan warga Jepang untuk mobilisasi.

Sejumlah stasiun besar yang ada di Jepang. Tokyo, Osaka dan Nagoya menjadi tiga provinsi dengan jumlah pengguna dan jalur kereta tertinggi di antara wilayah lainnya di Jepang.

Director General Manager Sales Departement/Real Estate Transaction Specialist JR Hakata City Yusuke Nigo mengatakan, pihaknya bukan tanpa tantangan agar kereta tetap jadi andalan masyarakat dalam bertransportasi. Pengguna kendaraan pribadi tentu menjadi saingan dalam usaha membangun sistem transportasi perkotaan yang efisien dan ramah lingkungan.

“Kami membangun juga tempat parkir di sekitar stasiun. Sehingga mereka (pengguna kendaraan pribadi) bisa parkir di stasiun. Tapi strategi sebenarnya adalah bagaimana meningkatkan servis, mulai dari keamanan, keselamatan dan stasiun harus dibuat bersih. Itu tetap terus menjadi perhatian kami,” katanya dalam paparan di Kantor Stasiun Hakata City, Fukuoka, Jepang.

Sementara pemerintah Jepang sendiri, kata dia, tak terlalu banyak intervensi dari sisi kebijakan atau aturan agar lebih banyak masyarakat menggunakan transportasi. Namun menurutnya, harga kendaraan pribadi dan tarif parkir yang sangat mahal di Jepang cukup mendorong orang-orang untuk lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Namun demikian, operator transportasi harus tetap memberikan layanan terbaik kepada pengguna sehingga benar-benar bisa menggantikan peran kendaraan pribadi dalam menunjang mobilisasi sehari-hari.

“Dari segi kebijakan, yang bisa menunjang agar banyak orang pakai kereta, memang di Jepang nggak terlalu tekankan ke situ. Tapi kondisinya mungkin memang beda di Indonesia. Di sini, (harga) mobil saja mahal, parkir mahal, jadi seolah-olah sudah alamiah mereka harus naik kereta,” kata Nigo.

“Yang dapat dilakukan operator adalah meningkatkan frekuensi operasi, harus tepat waktu dan membuat naik kereta yang nyaman dan mudah. Mereka juga pendekatan ke Pemerintah Daerah agar orang-orang yang menggunakan kereta, misalnya perbaikan jalan menuju stasiun, supaya nggak macet menuju stasiun. Jadi harus dilakukan pendekatan ke Pemerintah Daerah agar bisa mendukung infrastruktur akses ke stasiun,” tambahnya.

JR Hakata City sendiri mengandalkan pengembangan fungsi stasiun dalam mencapai target laba mereka. Pengembangan stasiun menjadi kawasan yang berorientasi transit pada penumpang, membuat pendapatan dari sisi operasi pengangkutan hanya memainkan peran yang kecil – SOLID GOLD BERJANGKA