SOLID GOLD BERJANGKA

SOLID GOLD BERJANGKA

SOLID GOLD BERJANGKA MAKASSAR – Dibuka melemah 0,66%, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini sudah berhasil menipiskan kekalahannya. Sampai dengan berita ini diturunkan, pelemahan IHSG tersisa 0,28% ke level 5.865,3.

Sektor pertambangan tampil menjadi penyelamat bagi IHSG. Sektor ini menguat hingga 1,83%, menjadikannya sektor dengan kontribusi positif terbesar bagi IHSG.

Penguatan harga komoditas pertambangan menjadi motor utama dari kenaikan harga saham-saham di sektor tersebut. Pada perdagangan kemarin (10/7/2018), harga minyak jenis light sweet (WTI) yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) naik 0,35% ke level US$ 74,11/barel, sementara harga minyak Brent yang menjadi acuan di Eropa melesat 1,01% ke level US$ 78,86/barel.

Kenaikan harga minyak mentah dipicu oleh cadangan di AS yang turun drastis. American Petroleum Association (API) melaporkan cadangan minyak Negeri Adidaya turun 6,8 juta barel pada pekan lalu menjadi 410,1 juta barel, lebih dalam dari konsensus yang hanya memperkirakan penurunan sebanyak 4,5 juta barel. Penurunan pasokan dari fasilitas milik Syncrude di Kanada yang belum bisa beroperasi menjadi penyebab anjloknya cadangan minyak mentah di AS.

Kemudian, ada juga gangguan produksi di Libya. Dalam lima bulan terakhir, produksi minyak Libya turun 50% menjadi 527.000 barel/hari, seiring dengan ditutupnya dua pelabuhan utama disana yaitu Ras Lanuf dan Es Sider yang dikuasai kelompok separatis Libyan National Army (LNA).

Selain minyak mentah, komoditas batu bara juga mencatatkan kenaikan harga. Kemarin, harga batu bara Newcastle kontrak acuan melesat 1,16% ke level US$ 117,45/metrik ton.

Saham-saham emiten pertambangan yang diborong investor diantaranya: PT Medco Energi Internasional Tbk/MEDC (+2,14%), PT Surya Esa Perkasa Tbk/ESSA (+0,78%), PT Bayan Resources Tbk/BYAN (+7,99%), PT Bumi Resources Tbk/BUMI (+3,64%), PT Aneka Tambang Tbk/ANTM (+4,94%), dan PT Bukit Asam Tbk/PTBA (+0,75%).

selain itu, Bursa Jepang dibuka melemah pada perdagangan hari Rabu (11/7/2018) akibat kembali munculnya kecemasan terkait perang dagang.

Dini hari tadi, pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merilis daftar baru yang berisi barang-barang China senilai US$200 miliar (Rp 2.875 triliun) yang dikenakan bea masuk baru sebesar 10%.

Indeks acuan Nikkei 225 turun tajam 0,84% menjadi 22.009,89 di awal perdagangan sementara indeks Topix melemah 0,7% ke posisi 1.704,05, AFP melaporkan.

Penguatan Wall Street pada penutupan perdagangan hari Selasa tampaknya terhapuskan oleh kabar perang dagang yang makin panas.

Dow Jones Industrial Average bertambah 0,58% menjadi 24.919,66, S&P 500 naik 0,4% menuju 2.793,84, sementara Nasdaq Composite ditutup menguat tipis 0,04% di posisi 7.759,2.

Meskipun telah diumumkan, bea masuk itu tidak akan segera berlaku namun akan melewati proses kajian selama dua bulan ke depan. Rapat dengar pendapat dijadwalkan pada 20 Agustus hingga 23 Agustus.

Beberapa produk di daftar itu adalah barang-barang dari sektor dalam Made in China 2025, kata pejabat itu. Made in China 2025 adalah rencana strategis Beijing untuk membuat China menjadi pemimpin di industri global, termasuk teknologi, CNBC International melaporkan – SOLID GOLD BERJANGKA