Persaingan Ketat Penghitungan Suara Pemilu AS, Bursa Saham Seolah Menahan Napas

Solid Gold Berjangka Makassar – Pandemi virus Corona atau COVID-19 bukan lagi jadi sumber ketakutan utama para manajer investasi di Bursa AS. Bursa AS kini lebih mewaspadai inflasi ketimbang pandemi. Mereka khawatir ekonomi pulih dengan cepat hingga mengakibatkan uang beredar lebih cepat dari sebelumnya dan muncullah inflasi.

Demikian menurut hasil survei Bank of Amerika, untuk pertama kalinya sejak Februari 2020, COVID-19 tidak lagi menjadi ketakutan nomor 1 di antara para manajer investasi.

Justru inflasi yang sekarang menjadi risiko teratas yang paling dikhawatirkan. Kekhawatiran kedua yang paling umum adalah Taper Tantrum, yang terjadi ketika pasar panik karena imbal hasil obligasi yang melonjak.

Penemuan ini menggarisbawahi betapa drastisnya situasi telah berubah selama setahun terakhir. Keyakinan tumbuh karena peluncuran vaksin, pelonggaran pembatasan keamanan kesehatan, dan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintah federal.

“Sentimen investor jelas bullish,” tulis ahli strategi Bank of America dalam laporan survei tersebut dikutip dari CNN Business, Rabu (17/3/2021).

Saham AS pulih dengan cepat dari pandemi. Dow mencapai titik terendah di level 18.592 pada 23 Maret. Indeks naik secara mengejutkan 77% sejak saat itu. Demikian juga dengan Nasdaq telah naik berlipat ganda selama rentang itu.

Para ekonom juga sangat optimis, terutama karena Paman Sam memberikan lebih banyak dukungan bagi perekonomian daripada yang diperkirakan banyak orang beberapa bulan lalu. Minggu lalu, Kongres mengesahkan Paket Stimulus Amerika senilai US$ 1,9 triliun dari Presiden Joe Biden.

Goldman Sachs pun optimis ekonomi AS akan mencatat pertumbuhan PDB seperti China sebesar 7% dalam setahun penuh pada tahun 2021 ini. Itu akan menjadi laju tercepat bagi Amerika Serikat sejak 1984.

Dan Goldman Sachs mengharapkan ekonomi AS akan menjadi 8% lebih besar pada akhir tahun 2021, dibandingkan dengan akhir tahun lalu. Dengan ukuran itu, akan menjadi pertumbuhan PDB tercepat sejak 1965.

Bahkan, hampir setengah (48%) dari manajer investasi yang disurvei oleh Bank of America mengharapkan pemulihan berbentuk V, naik hanya 10% seperti yang diprediksikan pada Mei 2020 lalu.

Rekornya lagi, 91% investor mengharapkan ekonomi yang lebih kuat, melampaui kepercayaan yang pernah ada saat pemotongan pajak Trump disahkan pada akhir 2017 lalu dan selama tahap awal pemulihan dari Resesi Hebat lalu.

Akan tetapi semua optimisme di atas membuat beberapa pihak di Wall Street khawatir bahwa ekonomi dapat menjadi terlalu panas.

Ketakutan besar adalah bahwa kenaikan inflasi menyebabkan Federal Reserve menaikkan suku bunga dengan cepat, memperpendek pemulihan ekonomi dan ledakan pasar.

Seperti yang terjadi pada 1970-an dan awal 1980-an ketika bank sentral yang dipimpin Paul Volcker menjinakkan inflasi dengan kenaikan suku bunga yang agresif.

Rekor 93% manajer investasi memprediksi akan terjadi inflasi global yang lebih tinggi selama 12 bulan ke depan, menurut Bank of America.

Namun, para pejabat AS menolak kekhawatiran inflasi tersebut. Selama akhir pekan, Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan inflasi mungkin bergerak lebih tinggi, tetapi hanya untuk sementara.

“Untuk mendapatkan inflasi tinggi yang berkelanjutan seperti yang kami alami pada tahun 1970-an, saya sama sekali tidak mengharapkan itu,” kata Yellen kepada ABC.

Ed Yardeni, presiden penasihat investasi Yardeni Research, tidak terlalu khawatir dengan inflasi karena sekitar 10 juta pekerja AS masih menganggur akibat pandemi tersebut.

“Spiral harga upah gaya 1970-an sekarang tidak mungkin, menurut pendapat kami, terlepas dari ekses fiskal dan moneter pemerintah kami,” tulis Yardeni dalam sebuah catatan kepada kliennya, Selasa.