SOLID GOLD

SOLID GOLD

SOLID GOLD MAKASSAR – “Bapakmu, Le, pergi jauh. Jaaauuuh sekali. Dia pergi untuk mengumpulkan banyak uang supaya nanti kita bisa bikin rumah baru, punya sawah yang luas dan subur dan sapi dan kerbau dan lain-lainnya. Kamu pasti senang kalau nanti Bapak pulang.” (2012:12)

Kalimat itu diucapkan Mbok kepada Lantip tiap kali bertanya perihal bapaknya yang kabur tanpa jejak sejak ia kecil. Pernyataan Mbok sekaligus mewakili imajinasi penjual tempe pada nilai paripurna dalam hidup yang terwujud pada rumah, sawah, hewan ternak, dan aset lainnya. Dalam novel Para Priyayi, Umar Kayam mengubah nasib Lantip menjadi seorang guru priyayi. Lantip meninggalkan kampungnya di Wanalawas, pergi ke “kota” Wanagalih untuk disekolahkan oleh Ndoro Guru Sastrodarsono.

Dalam karya monumental yang menggambarkan batin Jawa pada masa kolonial itu, Wanalawas yang terpencil adalah simbol serba ketidakmajuan, sedangkan bersekolah di Wanagalih adalah simbol kemoderenan karena kelak orang-orang bersekolah di HIS, MULO atau AMS dapat bekerja menjadi mantri guru atau pegawai-pegawai kantor pemerintahan Belanda.

Seabad berlalu, pada 2017 kali ini, mari menjadi Pak Ryan yang pagi ini kembali menemukan surat undangan pernikahan di meja kerjanya. Sepucuk surat itu bertuliskan nama mantan siswi yang baru saja lulus dari Sekolah Dasar tempatnya mengajar dua tahun lalu. Bukan kali pertama terjadi, tapi tiap menemukan kabar sejenis, ia lagi-lagi tersadar jika ia kini adalah seorang guru PNS yang ditugaskan mengajar pada sekolah yang berjarak 40 kilometer dari pusat kota kabupaten di pinggiran Jawa Tengah.

Kampung letak sekolah itu berada di antara kepungan beratus hektar hutan jati dengan akses jalanan yang buruk. Total siswa di sekolah berjumlah 45 anak, rata-rata berjumlah 7 bocah dari kelas satu sampai kelas enam. Sekolah tetangga terdekat siswanya berjumlah 25 bocah saja, tapi tetap saja tidak bisa digabung karena hutan luas yang memisahkan mereka pun terlalu jauh. Akan tak cukup adil untuk bocah yang datang dari satu kampung yang dikorbankan.

Selepas Sekolah Dasar, sedikit sekali siswa yang melanjutkan ke jenjang sekolah menengah. Jarak sekolah jauh, tak ada akses transportasi umum. Jika memiliki kendaraan, perlu bensin dua liter untuk pulang-pergi tiap hari. Satu atau dua keluarga awalnya bertekad menyekolahkan anaknya, tapi kemudian berujung ke pertanyaan: “Sekolah buat apa?” Mereka lalu berhenti berangkat sekolah; anak gadis akan segera menikah, yang laki-laki lazimnya pergi meninggalkan tanahnya.

Awal waktu ketika baru hangat-hangatnya jadi sarjana, Pak Ryan bertekad betul mengaplikasikan semua teori yang ia pelajari dalam buku Filsafat Pendidikan. Tetapi, fakta lapangan jauh dengan teori muluk UU tujuan Pendidikan Nasional. Kini, ia lebih sering jadi relijius untuk menenangkan diri. Suatu ketika ia membaca pesan grafis seorang kiai di Instagram, katanya, “Jangan berharap siswa-siswamu menjadi pintar hanya gara-gara kau ajar. Pintar atau tak pintar itu urusan Allah, tugasmu adalah mengajar dengan baik dan mendoakannya.” Pak Ryan tahu, tindakan menghafal kutipan itu adalah wujud apologi menenangkan diri. Tak apa, toh, sinyal internet kemudian hilang kembali setibanya ia di hutan.

Cah alas alias bocah hutan lalu ramai-ramai jadi kuli di Jakarta. Para pemangku jabatan di hutan bukan orang kampung mereka, melainkan orang-orang asing yang berasal dari kota. Para mafia kayu yang hilir mudik juga orang kota. Lahan perhutani yang bisa disewa untuk ditanami tanaman palawija hanya terjangkau oleh orang kaya dari kota. Lagi-lagi kota. Upah sebagai buruh tani dari menggarap lahan sewa orang kota tak seberapa, jika pun panen, akses distribusi mahal dan harga hasil panen juga ditentukan oleh tengkulak.

Di sekolah, pandangan peran manusia dianggap sebagai sumber daya pembangunan. Buku-buku diktat dengan harga mahal, seragam, sepatu, sering diharapkan akan berubah menjadi meja kerja, dasi, dan lingkungan pergaulan eksklusif sebagai simbolisasi kesuksesan. Pada jenjang sekolah menengah, anak-anak harus menghafal rumus kimia, rumus fisika dan rumus matematika yang rumit. Rumus itu harus terus dipelajari hingga perguruan tinggi agar dapat menuntaskan kerja mesin-mesin dan piranti teknologi yang berguna untuk membangun gedung-gedung tinggi yang entah sekadar mempercantik atau menyesaki kota.

Di sekolah, anak-anak hutan tidak diperlakukan sebagai subjek pembangunan yang utuh yang membuat mereka lepas dari budayanya. Sekolah tidak mengajak mereka berpikir bagaimana caranya agar di masa depan lahan sewa tanah hutan negara dapat dipergunakan oleh orang-orang kampung sendiri. Sekolah tidak mengajarkan mereka untuk membuat pertambahan nilai pada sedikit ladang yang mereka miliki. Sekolah tidak memberi tahu bagaimana cara mengendalikan harga pasar yang dikuasai oleh manusia yang tak pernah terlibat dalam proses menanam. Sekolah tidak mengajarkan mereka untuk bertanya mengapa hidup di masyarakat artinya berhadap-hadapan dengan pelapisan atau stratifikasi sosial yang bersumber dari adanya perbedaan ekonomi, pendidikan, agama, keturunan, kekuasaan.

Jika ada yang beruntung menjadi Lantip yang terus bersekolah, mereka terbentuk menjadi manusia siap kerja. Dahulu, angkatan siap kerja itu diperbantukan kolonial menjadi ambtenaar, mandor perkebunan, atau pamong praja.

Tetapi tidak semua anak bisa disekolahkan ke kota seperti Lantip. Yang lebih parah, kita jarang berpikir mengapa sekolah tidak bisa menghasilkan Lantip-Lantip lain yang bukan priyayi? Soal akses jalan yang buruk dan infrastruktur yang memadai, kita selalu hanya bisa menunggu agar pemerintah pusat dan daerah ingat janji-janji kampanyenya. Tapi, sampai kapan jiwa pendidikan menjadi perpanjangan narasi pembangunan perkotaan yang gagal membuat Lantip menjadi tuan di tanahnya sendiri? Lantip harus pulang ke desa, sebab kota sudah semakin sesak dan mampat – SOLID GOLD