Foto: Grandyos ZafnaFoto: kementan

SOLID GOL MAKASSAR – Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjalin kerja sama dengan pemerintahan Taiwan demi pengembangan sektor pertanian Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa dan tadah hujan yang berpotensi besar menyediakan pangan, baik mencukupi kebutuhan dalam negeri maupun meningkatkan volume ekspor.

Kesepakatan kerja sama ini terungkap saat Amran menjalankan kunjungan kerja ke Taiwan pada dan bertemu Mentan Taiwan Tsung-Hsien Lin. Pada kesempatan itu, Amran didampingi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Mat Syukur dan Staf Khusus Mentan Bidang Tata Hubungan Kerja Baran Wirawan.

Pada pertemuan itu, Mr. Tsung membeberkan keberhasilan implementasi kerja sama Taiwan-Indonesia selama ini telah memberikan dampak konkrit bagi peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia. Yakni pengembangan inkubasi agribisnis di Lembang, Bogor dan Bali, serta kemajuan implementasi proyek pengembangan pertanian modern terintegrasi di Karawang.

Karenanya, Amran mengapresiasi dukungan Taiwan terhadap pengembangan sektor pertanian di Indonesia itu. Amran juga membeberkan kemajuan pertanian Indonesia yang sangat menggembirakan dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, khususnya produksi sejumlah komoditas pertanian strategis yang meningkat secara signifikan sehingga mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahkan bisa ekspor.

“Dalam 3 tahun terakhir, ekspor komoditas pertanian Indonesia meningkat hingga 24% dibanding 2016, sehingga berdampak pada surplusnya neraca perdagangan pertanian 2017 sebesar Rp 214 triliun. Capaian ini tentu karena kerja keras dan pengembangan pertanian Indonesia sudah menggunakan teknologi modern,” ujar Amran dalam keterangannya.

Amran berharap agar SDA pertanian yang berlimpah di Indonesia dapat disinergikan dengan keunggulan teknologi pertanian yang dimiliki Taiwan. Utamanya, pada teknologi sistem pemanenan air hujan dan teknologi maju lainnya.

“Bila ini dapat dilaksanakan, maka akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian yang kuat, sehingga cita-cita Indonesia untuk menjadi lumbung pangan Asia dan bahkan dunia dapat segera terwujud,” harap dia.

Menurutnya, saat ini ada dua potensi besar pengembangan pertanian Indonesia yang belum termanfaatkan secara optimal. Yakni lahan rawa dengan luasan mencapai 10 juta hektare dan lahan tadah hujan sekitar 4 juta hektare.

“Untuk itu, optimalisasi pemanfaatan potensi tersebut memerlukan dukungan teknologi Pemanenan Air Hujan (Rain Water Harvesting System) dari Taiwan dalam bentuk embung, dam parit dan long storage,” ujarnya.

Mendengar hal itu, Mr. Tsung memerintahkan tim ahlinya untuk membangun fasilitas Rain Water Harvesting System di Indonesia. Teknologi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari satu kali tanam per tahun, menjadi tiga kali untuk areal tadah hujan serta dari lahan rawa yang saat ini sama sekali belum termanfaatkan menjadi tiga kali tanam per tahun.