SOLID GOLD

SOLID GOLD

SOLID GOLD MAKASSAR – PERANG Dunia I adalah konflik terdahsyat di dunia karena memakan korban hampir 20 juta jiwa dan 20 juta lainnya terluka. Perang tersebut merupakan ‘perang total’ pertama dan melibatkan semua sektor masyarakat, termasuk pria, wanita, dan anak-anak.

BACA JUGA : Legalitas PT Solidgold Berjangka

Masyarakat sipil di masa perang Inggris melihat perubahan signifikan dalam kehidupan setiap warga negara. Masyarakat melihat adanya perubahan besar dalam peran perempuan, yang mengambil alih sejumlah peran laki-laki tradisional dan mulai bekerja sebagai petugas polisi, mekanik, petugas kereta api, pekerja pabrik amunisi, dan lainnya.

Wanita yang direkrut untuk bekerja di pabrik amunisi selama Perang Dunia I dikenal sebagai Canary Girls (Perempuan Kenari) karena bahan kimia yang ada dalam pembuatan amunisi membuat kulit mereka menjadi kuning. Perempuan Kenari membuat banyak bom TNT untuk Perang Dunia I. Mereka mencampur bahan kimia dengan tangan dan banyak di antaranya terjangkit penyakit parah yang menyebabkan kulit menjadi kuning karena kerusakan hati.

Pada akhir perang, Inggris telah menghasilkan 4 juta lebih senapan, 250 ribu senapan mesin, 52 ribu pesawat terbang, 2 ribu lebih tank, 25 ribu lebih potongan artileri, dan lebih dari 170 juta peluru artileri. Perempuan Kenari menghasilkan sekira 80% persenjataan dan amunisi yang digunakan oleh tentara Inggris.

Pada pertengahan 1915, sekira 750 ribu orang tewas dan banyak pekerja laki-laki di pabrik amunisi direkrut untuk bergabung dengan tentara. Hal tersebut membuat pekerja wanita semakin dibutuhkan. Undang-Undang Amunisi pertama pada Juli 1915 menegaskan bahwa perempuan diizinkan bekerja.

Selebaran dan iklan digunakan untuk mendorong wanita bergabung dengan pabrik senjata. Slogan seperti ‘National Service’ atau ‘Women’s Land Army’, banyak digunakan. Pada 1916 lebih dari 370 ribu wanita dipekerjakan dalam perdagangan logam. Diperkirakan sekira 12 ribu di antaranya dipekerjakan dalam pembuatan peluru.

BACA JUGA : Profil Perusahaan PT Solidberjangka

Pekerja perempuan yang diatur oleh Kementerian Amunisi dibayar rata-rata kurang dari separuh upah laki-laki yang melakukan pekerjaan yang sama. Mereka bekerja hingga 12 jam dalam kondisi berbahaya, dengan dua kali makan dan masing-masing memiliki waktu 30-40 menit untuk makan sekaligus istirahat. Terlepas dari kenyataan bahwa upaya tersebut dilakukan untuk memperbaiki kondisi kerja, banyak pengusaha tidak mengikuti rekomendasinya.

Keracunan TNT merupakan ancaman utama bagi pekerja wanita dan penyebab lebih dari 300 kematian. Wanita yang terpapar bahan kimia tidak dilindungi dengan baik dan karena itulah mereka sering mengalami gagal hati, anemia, dan pembesaran limpa.

Penyakit kuning tersebut juga berdampak pada anak-anak mereka, yang akhirnya dijuluki ‘Canary Babies’ (Bayi-bayi kenari). Ada banyak kasus bayi kuning yang lahir dari wanita yang bekerja di pabrik amunisi.

Risiko serius lainnya akibat pabrik amunisi dan pekerjanya adalah ledakan, yang sering melukai atau mengakibatkan pekerja tewas. Beberapa langkah positif dilakukan untuk mengendalikan ledakan, termasuk inspektur yang tugasnya memastikan bahwa pekerja tidak membawa korek api atau rokok.

Dalam sebuah laporan, lebih dari 70 orang tewas dan lebih dari 400 lainnya cedera dalam ledakan pabrik amunisi yang berada di Silvertown pada 1917. Sementara lebih dari 130 pekerja meninggal dalam ledakan pada 1918 di pabrik yang berada di Chilwell. Perkiraannya adalah bahwa dua pekerja pembuat amunisi meninggal per minggu untuk melayani negara mereka – SOLID GOLD

BACA JUGA :  Alasan Anda memilih Kami Solidgold