SOLID GOLD

SOLID GOLD

SOLID GOLD MAKASSAR – Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo 1, Jeneponto, segera memasuki tahap pemasangan tiang dan turbin. Proses pengerjaan fondasinya sudah hampir rampung.

PLTB dengan kapasitas 72 Megawatt (Mw) ini dibangun dengan nilai investasi mencapai USD150 juta atau sekitar Rp1,99 triliun. Sebanyak 20 turbin dengan ketinggian 135 meter akan melengkapi ketersediaan listrik di Sulsel.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Jeneponto, Mernawati, mengatakan, saat ini proses finishing concentrate fondasi telah rampung. Tiang, turbin, dan baling-balingnya pun sudah ada di Pelabuhan Sokearno-Hatta, Makassar.

“Pengangkutan turbin rencananya akan dilakukan pada minggu pertama Ferbruari nanti,” ujar Mernawati kepada FAJAR, Rabu, 24 Januari.

Untuk penopang turbin yang telah dibangun, setiap fondasi menghabiskan 900-an ton semen. Jika semua fondasi turbin telah rampung, maka selanjutnya masuk ke tahap pemasangan turbin, tiang, dan kincir alias baling-baling.

Namun, untuk pengangkutan turbin, Pemkab Jeneponto terlebih dahulu akan melakukan sosialiasi kepada masyarakat. Alasannya, bahan-bahan utama tersebut berukuran besar dan panjang.

Pengangkutannya diperkirakan memakan waktu hingga tiga bulan, Makassar-Jeneponto. Sesuai kontrak pengerjaan, kontraktor diberi waktu 100 hari kerja untuk menuntaskan pengangkutan turbin dan kincir.

PLTB ini akan memiliki 5 tower dengang berat 80 ton. Panjangnya mencapai 36 meter. Sementara panjang kincir mencapai 64 meter dengan berat 17 ton.

Tinggi turbin mencapai 138 meter. Dengan demikian, total tinggi setiap pembangkit mencapai 198 meter
. ”Ini turbinnya lebih sedikit, tetapi lebih besar dari turbin yang dipakai di PLTB Sidrap,” imbuh Mernawati.

PLTB Tolo dikelola oleh PT Energi Bayu Jeneponto (PT. EBJ). Perusahan tersebut merupakan anak perusahaan dari Equis Energy.
Perusahaan ini telah memperoleh izin mengelola PLTB Tolo 1.

PLTB ini berlokasi di Kecamatan Turatea, Jeneponto. Ada beberapa desa tempat pemancangan turbin. Di antaranya, Desa Empoang Utara, Empoang, Kayuloe Timur, Kayuloe Barat, Kalumpang Loe, Maccini Baji, Pa’rasangang Beru, dan Bontomate’ne.

“Sejak Desember 2017 lalu fondasi pertama itu sudah berdiri dan terus berlanjut sampai sekarang,” imbuh perempuan berjilbab ini.

Soal potensi angin, PLTB ini sebenarnya bisa ditambah hingga 60 Mw dengan melihat potensi angin yang berada di kawasan tersebut. Mernawati mengklaim, angin di lokasi itu merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara.

Hanya saja, mengenai penambahan ini, mesti dibicirakan lebih lanjut. Yang pasti, program ini akan mendukung tercapainya pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk masa depan.

Sebelumnya, GM PLN Sulselrabar, Bob Saril, menjelaskan, potensi angin di Sulsel untuk dikonversi menjadi energi listrik amat baik. Khususnya, di daerah Sidrap dan Jeneponto.

“Makannya bukan cuma di Sidrap saja akan dibangun PLTB. Di Jeneponto juga sementara proses konstruksi,” bebernya.

Berikut Spesifikasi PLTB Sidrap:

Bob merinci, jumlah tower kincir angin yang dibangun di Jeneponto lebih sedikit dari yang ada di Sidrap. Hanya 20 tower, namun kapasitas energi listrik yang dihasilkan lebih besar.

“Kini alat kontrol, kincir serta towernya sementara proses angkut satu per satu. Rencana PLTB Jeneponto akan masuk ke sistem pada Juni dan commercial operation date (COD) paling lambat Agustus,” terang Bob – SOLID GOLD