Foto: Reuters

Solid Gold Makassar – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin membara sejak pekan lalu. Presiden AS Donald Trump menyerukan serangan ke Baghdad hingga menewaskan komandan pasukan Quds Iran Jenderal Qasem Soleimani.

Soleimani, kepala unit pasukan khusus di Korps Pengawal Revolusi Islam, adalah arsitek utama operasi militer Iran di luar negeri. Dia terbunuh Kamis malam ketika meninggalkan bandara Baghdad, saat mobil konvoinya ditabrak oleh sebuah pesawat tak berawak yang diperintahkan oleh presiden AS.

Salah satu dari mereka yang terbunuh bersamanya juga adalah pemimpin penting milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, yang juga wakil komandan milisi yang didukung Iran yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer.
Jauh sebelum penyerangan itu, konflik antara AS dan Iran sudah berlangsung panjang. Trump juga sudah berkali-kali menjatuhkan sanksi kepada Iran. Melansir Al Jazeera, Senin (6/1/2020) berikut rentetan sanksi yang dijatuhkan Trump kepada Iran.

7 Agustus 2018 merupakan gelombang sanksi pertama yang dikeluarkan Trump yang sebelumnya dicabut lantaran adanya kesepakatan nuklir. Mereka melarang perdagangan dengan sejumlah sektor bisnis dari penerbangan dan karpet hingga pistachio dan emas.

Kontrak penjualan dengan total 230 pesawat senilai US$ 39,5 miliar dibatalkan. Sebanyak 110 pesawat Boeing senilai US$ 20 miliar untuk pengiriman kepada Iran Air dan Aseman Ailines dibatalkan. Lalu dari penjualan 100 pesawat Airbus senilai US$ 19 miliar yang terkirim hanya 3 pesawat kepada Iran Air. Kontrak penjualan 20 pesawat ATR senilai US$ 536 juta juga dibatalkan, hanya 13 pesawat yang dikirim kepada Iran Air.

Pemerintah AS juga melakukan pelarangan transaksi emas dan logam mulia lainnya kepada Iran. Sebelumnya emas digunakan untuk membeli minyak dari Iran untuk mengakali sanksi transaksi dari bank.

AS juga melarang masuknya produk karpet dari Iran sebanyak 5.400 ton senilai US$ 424 juta. Seperti diketahui industri karpet Iran menguasai 30% pasar karpet global dan memiliki sekitar 2 juta pekerja masyarakat Iran. AS sendiri merupakan pasar terbesar bagi karpet Iran.

AS juga melarang ekspor kacang pistasi (pistachio) dari Iran sebanyak 96.000 ton senilai US$ 852 juta. Iran dan AS sendiri merupakan kompetitior utama dalam pasar kacang pistasi dan menguasai 85% pasar.

Pelarangan juga dilakukan untuk penjualan mobil di Iran. Padahal Iran merupakan pasar terbesar ke-12 di dunia dalam pasar mobil pada 2017. PSA, pembuat mobil Peugeot memutuskan untuk menghentikan produksinya di Iran, padahal di negara itu PSA menguasai 34% pasar mobil.

Selain itu untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir, Iran akhirnya bisa menjual 10 kilogram kaviar senilai US$ 1,37 juta pada kurun waktu 2016-2017. Dengan sanksi baru, diperlukan beberapa tahun lagi untuk pengiriman kaviar Iran ke AS.

Pada 5 November 2018 AS menjatuhkan sanksi gelombang kedua kepada Iran. Kali ini AS fokus menjatuhkan sanksi kepada sektor minyak dan perbankan. AS menyerukan kepada negara pembeli minyak dari Iran untuk dihentikan, jika tidak juga akan mendapatkan hukuman dari AS