SOLID GOLD

SOLID GOLD

SOLID GOLD MAKASSAR – Nilai tukar rupiah kembali tak berdaya menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Pada pekan pertama setelah libur panjang kemarin, dolar AS kembali tembus di atas Rp 14.000.

Jelang akhir pekan kemarin dolar AS sudah berada di level Rp 14.070. Di hari sebelumnya, Kamis 21 Juni 2018 dolar bahkan menguat 173 poin ke level Rp 14.103.

Sebelum libur Lebaran, dolar AS terhadap rupiah berada di level Rp 13.930. Melemah juga dibanding posisi awal bulan di Rp 13.895.

Menurut Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS.

“Saya lebih melihat dari sisi dolar AS indeksnya. Karena sejauh ini dolar AS indeks terlihat masih menguat antara 90-95,” tuturnya

Penguatan indeks dolar AS masih dipengaruhi beberapa sentimen dari negeri Paman Sam. Mulai dari rencana kenaikan suku bunga The Fed hingga efek perang dagang AS.

“Jadi harusnya itu yang lebih memberikan pengaruh. Tapi kan bukan cuma rupiah, mata uang lain juga terkena imbas dari penguatan dolar indeks itu,” tambahnya.

Beberapa mata uang di kawasan memang juga mengalami pelemahan terhadap mata uang dolar AS. Para investor lebih memilih untuk menempatkan dananya di mata uang yang aman seperti dolar AS.

Meski membuat kalangan dunia usaha dan investor, kondisi pelemahan rupiah dipercaya hanya bersifat sementara.

“Harusnya si kalau kita lihat lebih ke arah temporary nantinya mungkin dalam beberapa waktu ke depan bisa lebih stabil,” kata William.

Dia memandang pelemahan rupiah lebih disebabkan lantaran indeks dolar AS yang menguat. Salah satu penyebabnya rencana Bank Sentral AS, The Fed yang memberikan sinyal akan menaikan suku bunganya beberapa kali tahun ini.

“Kenaikan dolar indeks dari saat berita awal kenaikan FFR (Fed Fund Rate). Tentunya nanti akan berimbas balik ke arah stabil,” imbuhnya.

Dia percaya dalam jangka pendek rupiah bisa kembali stabil. Apalagi jika keputusan kenaikan FFR sudah dilakukan.

Untuk minggu ini, William memprediksi dolar AS terhadapn rupiah akan berada dalam rentang Rp 13.880-14.160.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kembali mendapatkan pekerjaan rumah untuk mengembalikan kestabilan nilai tukar rupiah.

Padahal Bank Indonesia (BI) telah menaikan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak 2 kali jadi 4,75%. BI bahkan berencana untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.

Menurut Analis Senior dari PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, kenaikan suku bunga acuan memang menjadi salah satu senjata untuk meredam penguatan dolar AS. Namun kebijakan ini memiliki efek samping negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Menaikan suku bunga hanya obat sesaat, karena kontradiktif dengan pertumbuhan ekonomi,” terangnya.

Kenaikan suku bunga acuan akan memicu kenaikan suku bunga kredit perbankan. Sehingga dikhawatirkan penyaluran kredit akan melambat, peredaran uang akan berkurang.

Reza menilai seharusnya kebijakan moneter diiringi dengan kebijakan fiskal. Pemerintah harus menjaga indikator-indikator makro ekonomi seperti inflasi maupun neraca perdagangan.

BPS sendiri mencatat, pada April 2018 deffisit neraca dagang RI mencapai US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar.

Besarnya impor membuat permintaan atas dolar AS di dalam negeri juga besar. Hal itu turut membebani pergerakan. nilai tukar rupiah.

Menurut Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya, dunia usaha dan investor sebenarnya tidak berharap rupiah menguat, mereka hanya ingin agar pergerakan rupiah stabil.

“Jadi yang penting itu lebih ke arah stabil, bukan terlalu berfluktuatif yang membuat tidak nyaman bagi pelaku usaha maupun investor,” kata William.

Baik dunia usaha maupun investor akan lebih nyaman jika rupiah stabil. Sebab dengan begitu, mereka bisa melakukan strategi investasi sesuai dengan prediksinya.

“Selama stabil seharusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kalau stabil itu artinya kondisinya sudah mudah diperkirakan, langkah antisipasinya lebih mudah,” tambahnya.

Menurut William rentang kestabilan dolar AS terhadap rupiah saat ini di kisaran Rp 13.800-14.200 – SOLID GOLD