China Luncurkan Pesawat Amfibi Terbesar di Dunia, Ini Penampakannya

SOLID GOLD BERJANGKA – China berhasil menyelesaikan proses pengembangan pesawat amfibi terbesar di dunia. Pesawat yang bisa mendarat di atas air ini dirancang untuk misi pemadaman kebakaran hutan dan penyelamatan di tengah laut.

SOLID GOLD BERJANGKA – ‘Burung besi’ bernama AG600 ini diluncurkan di daerah Zhubai China pada akhir pekan lalu. Peluncuran ini dipandang sebagai lompatan di industri pesawat terbang Negeri Tirai Bambu.

SOLID GOLD BERJANGKA – Seperti dikutip dari China Daily, Rabu (27/7/2016), pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 500 km per jam dan jarak jangkau terbang 4.500 km atau terbang non stop 12 jam. Data ini disampaikan oleh Aviation Industry Corporation China (AVIC).

SOLID GOLD BERJANGKA – AG600 memiliki panjang 37 meter dengan panjang bentang sayap 38,8 meter. Deputi General Manager AVIC, Geng Ruguan, menyebut pesawat yang memiliki ukuran sebesar Boeing 737 ini diklaim sebagai pesawat amfibi terbesar di dunia.

Saat take off dan landing di atas air, AG600 memerlukan area dengan panjang minimal 1.500 meter, lebar 200 meter dan kedalaman air 2,5 meter.

Saat bertugas, pesawat amfibi made in China ini bisa mengisi air sebanyak 12 ton dalam waktu 20 detik dan mampu membawa 370 ton air sekali terbang.

Untuk misi SAR, pesawat mampu menyelamatkan 50 orang yang terombang-ambing di lepas pantai.

Program pengembangan AG600 dimulai tahun 2009, setelah memperoleh restu Pemerintah China. Selama proses perencanaan, pengembangan hingga produksi, pesawat amphibi ini melibatkan 70 perusahaan manufaktur komponen pesawat dan peneliti dari 150 institusi yang berasal dari 20 provinsi dan kota di China.

“AG600 seperti sebuah kapal laut yang bisa terbang, dengan sistem engineering terkini dan teknologi anti karat,” ujar Chief Designer AG600, Huang Lingcai.

Sampai saat ini, AG600 masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan domestik China. Pesawat ini telah dipesan sebanyak 17 unit.

Kehadiran pesawat amfibi ini membuat posisi China bisa disetarakan dengan negara produsen pesawat dunia seperti Amerika Serikat (AS) dengan Boeing dan Eropa dengan Airbus. Pesawat AG600 diperkenalkan beberapa saat setelah pesawat angkut personel buatan China, Y-20 beroperasi perdana pada 7 Juli dan pengenalan (roll out) pesawat penumpang bermesin jet C919 pada November 2015.

‘Burung besi’ bernama AG600 ini diluncurkan di daerah Zhubai China pada akhir pekan lalu. Peluncuran ini dipandang sebagai lompatan di industri pesawat terbang Negeri Tirai Bambu.

Seperti dikutip dari China Daily, Rabu (27/7/2016), pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 500 km per jam dan jarak jangkau terbang 4.500 km atau terbang non stop 12 jam. Data ini disampaikan oleh Aviation Industry Corporation China (AVIC).

AG600 memiliki panjang 37 meter dengan panjang bentang sayap 38,8 meter. Deputi General Manager AVIC, Geng Ruguan, menyebut pesawat yang memiliki ukuran sebesar Boeing 737 ini diklaim sebagai pesawat amfibi terbesar di dunia.

Saat take off dan landing di atas air, AG600 memerlukan area dengan panjang minimal 1.500 meter, lebar 200 meter dan kedalaman air 2,5 meter.

Saat bertugas, pesawat amfibi made in China ini bisa mengisi air sebanyak 12 ton dalam waktu 20 detik dan mampu membawa 370 ton air sekali terbang.

Untuk misi SAR, pesawat mampu menyelamatkan 50 orang yang terombang-ambing di lepas pantai.

Program pengembangan AG600 dimulai tahun 2009, setelah memperoleh restu Pemerintah China. Selama proses perencanaan, pengembangan hingga produksi, pesawat amphibi ini melibatkan 70 perusahaan manufaktur komponen pesawat dan peneliti dari 150 institusi yang berasal dari 20 provinsi dan kota di China.

“AG600 seperti sebuah kapal laut yang bisa terbang, dengan sistem engineering terkini dan teknologi anti karat,” ujar Chief Designer AG600, Huang Lingcai.

Sampai saat ini, AG600 masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan domestik China. Pesawat ini telah dipesan sebanyak 17 unit.

Kehadiran pesawat amfibi ini membuat posisi China bisa disetarakan dengan negara produsen pesawat dunia seperti Amerika Serikat (AS) dengan Boeing dan Eropa dengan Airbus. Pesawat AG600 diperkenalkan beberapa saat setelah pesawat angkut personel buatan China, Y-20 beroperasi perdana pada 7 Juli dan pengenalan (roll out) pesawat penumpang bermesin jet C919 pada November 2015.